![]() Pagi yang cerah... Jakarta yang padat, penuh dengan asap polusi dan emosi. Berbagai lapisan masyarakat bergerak bersama menuju lokasi tujuan. Mobil pribadi, angkot, metromini, kopaja, patas ac, bis reguler, bis antar jemput karyawan, dan lain-lain bersatu dalam kesemrawutan jalan Jakarta. Saling berlomba untuk segera sampai, tidak peduli harus bermanuver terus mengalahkan pengguna jalan lain. Jalan makin padat bukannya makin perlahan jaga jarak, tapi malah makin beringas bermanuver. main potong, geber gas, maen pepet untuk menggugur orang lain kepinggir, termasuk- kalau perlu - ya berkelahi, nampaknya sudah jadi pemandangan rutin sehari-hari di Jakarta. Kalau dulu saya selalu berpendapat bahwa pengguna jalan yang pinter seperti itu awalnya adalah kalangan kasta rendah, kalangan yang dulunya kere, lalu bisa munggah bale, lantas kesombongannya muncul karena merasa sudah cukup mampu beli motor, sudah cukup mapan hidupnya, meskipun tetep saja keturunan kere yang tidak lengkap diajarkan norma dan tatakrama yang cukup. Pengalaman saya berkawan dengan kalangan bawah, menelorkan sebuah kesimpulan bahwa sebagian besar orang yang seperti itu dulunya selalu hidup dalam bayang-bayang impian akan hidup sejahtera, mereka memacu diri sekuat tenaga agar kelak dapat hidup layak di tengah masyarakat, hidup layak di tengah himpitan jaman, dan bisa mengangkat derajat keluarga di mata masyarakat. Peninggalan budaya feodal begitu kental dalam kehidupan kita, sehingga kita sering lupa bahwa manusia di mata Tuhan adalah sama derajatnya. Peninggalan feodal pula yang akhirnya mendidik kita untuk menganggap rendah orang lain yang kurang sepadan dalam kehidupan. Jaman berubah, pembangunan meningkat, taraf hidup warga membaik, pendidikan yang dulunya hanya menjadi bagi orang yang mampu, kemudian menjadi target pemerintah untuk mencerdaskan peri kehidupan bangsa agar warga indonesia dapat hidup layak, makmur dan sejahtera, dan dapat duduk sama tinggi dgn bangsa lain, agar bangsa Indonesia tidak melulu menjadi bangsa jajahan yg hanya menelorkan kebodohan dan kemiskinan. Miskin ilmu - karena tidak mampu sekolah, miskin harta - karena tidak mampu mendapat pekerjaan yang layak, miskin nurani - karena miskin yang 2 di atas, akhirnya salah jalan jadi begundal. Motor dan Problema Sosial Sejak era 80-an dimana motor sudah tidak lagi impor secara utuh dari negara asalnya, seiring dengan kebijakan pemerintah untuk alih teknologi serta menciptakan lapangan kerja. Populasi motor sudah sangat melegakan hati bagi para produsen kelas 1-2-3, dimana produk mereka diserap pasar dengan cukup besar. Cukup besar untuk dapat membuat mereka survive dan terus berinovasi untuk bersaing dengan para kompetitornya. Cukup besar untuk dapat menyesaki jalanan ibukota, menjadi solusi murah transportasi penduduk, tidak hanya di Jakarta, tapi juga di luar Jawa yang sekali naik angkutan pedesaan biayanya bisa puluhan ribu. Tahun 1972 waktu pindah ke Jakarta. setiap pagi saya sudah diantar motor ke sekolah, setiap sore puter-puter kota, ke rumah family, maupun ke tempat hiburan. Di sekitar tempat tinggal hanya beberapa saja yang punya, kebanyakan masih suka naik sepeda, selain sehat juga tidak butuh bensin dan biaya service. Kadang-kadang saya juga nebeng naik motor teman untuk ke sekolah. 3 bocah SD dengan 1 bapak. tanpa helem, aman sampai Moestopo, bahkan sampai Tanah Kusir (yang waktu itu rasanya sudah luar kota banget) sampai lanud pelita di Cirendue, rasanya sudah sampai Bogor. Kalau sedang dibonceng motor, seringkali teman-teman ikut berlari di sebelah / di belakang motor, ada yang bawa gasing, ada yang bawa bendera-bendera kecil, ada juga yang dadah-dadah saja sambil ingusnya meler nikmat sampai ke bibir... :-). Tidak peduli mereka berlarian tak bersandal, tidak perduli kakinya menginjak kotoran ayam ataupun beling, begitu cerianya mereka, dan begitu inginnya mereka untuk bisa diajak juga keliling-keliling bersepeda motor... 34 tahun berlalu... Saya masih sering bertandang ke tempat tinggal lama. Teman-teman sudah sama tuanya, sebagian masih saling kenal, sebagian sudah pangling. Adik-adiknya juga sudah kawin semua, sudah hidup sendiri2. sdh pd kerja... meskipun ada juga yg tetap lebih suka menjadi pengangguran seumur hidup dan jadi pemabuk dan penjudi. Beberapa kawan sudah berangkat ke akherat karena OverDosis, meninggalkan istri dan anak yang terlantar hidupnya. Dan seperti ulasan sebelumnya dibawah... Masing-masing sudah punya motor sendiri-sendiri. meskipun kerjanya belum tetap dan serabutan, meskipun tinggalnya masih kumpul orang tua, meskipun gajinya pas-pas-an untuk hidup, sebagian malah lebih sering tekor, meskipun untuk makan terpaksa masih bergantung pada orang tua, dan meskipun-meskipun lainnya... Fenomena motor sebagai tolok ukur sosial kawan-kawan saya semasa kecil, juga punya reason yang beragam. Tapi intinya tidak beda jauh dengan apa yang saya bayangkan dan saya tuliskan dibawah ini. Motor tetap masih dianggap sebagai ukuran status sosial bagi kalangan tertentu, terutama yang berangkat dari kalangan MKB. Sementara itu, Fenomena motor pun ditanggapi serius oleh pemda dengan mencoba menerapkan kebijakan-kebijakan yang SEKIRANYA dapat dan ampuh untuk mengatasi keadaan yang mulai RUWET, walau kenyataannya upaya pemerintah untuk menertibkan jalan dan mengurangi angka kecelakaan dari sebuah produk bernama MOTOR masih jauh panggang dari api. Suasana di jalan sehari-hari lebih mirip arena gladiator, siapa yang kuat dia yang menang. Sementara untuk bisa menang di jalan, pertarungan dimulai dari perang psikologis sampai adu fisik. Dari mulai adu gengsi merek motor, cc motor, modifikasi, adu kencang, sampai adu fisik gede-gedean badan. Semua merasa punya jalan, semua merasa punya hak penuh atas badan jalan, semua ingin lekas sampai tujuan, tapi semuanya lupa, bahwa sikap demikian hanya akan menumbuhkan perilaku NGEHE... alias ngeselin hebat dalam sudut pandang saya, dan juga orang lain yang peduli dengan keteraturan, keselamatan, serta kebersamaan yang indah di jalan. Tidak perlu harus saling membalap. Tidak perlu harus selap-selip ngehe. Tidak perlu harus nempel ketat tanpa peduli jarak aman. Tidak perlu harus geber gas segala. Santai ajaa... nikmati indahnya pagi hari menuju tempat kerja,menuju kampus, dan lain-lain. Santai ajaa... karena hari ini masih panjang, kita butuh energi untuk berkarya dan bekerja. Santai ajaa... karena keluarga di rumah menunggu kita pulang dengan selamat. Maka jangan heran kalau saya katakan bahwa lebih banyak pengendara ngehe adalah orang kampung. (kalau gak mau dibilang kampungan ya jangan seenaknya di jalan, simple kan. Walaupun anda orang pinter dan berkasta MKA, tetep saja ngehe dan kampungan bung..!!! maaf ya... hahahahaa...) Montir bengkel langganan saya juga bilang begitu... "Pokoknya cak, kalo ada orang naik motor slengekan dan ugal-ugalan di Jakarta, udah pasti orang kampung. Gak tahu aturan, soale di kampung orang jalan 20 kilo aja munkin sudah luar kota. lawannya bus sama truk. kalo ngga kenceng ya di bablas terus sampe njengkang disawah ". Sebaliknya dari kalangan MKA - menengah keatas... Perilaku ngehe di jalan lebih disebabkan karena mereka terlalu lama merasa sebagai majikan sehingga orang lain di jalan kadang-kadang dirasa sebagai bawahannya juga. Minggir.. minggir !! .... boss mau lewat. Ada juga yang merasa paling hebat, karena merasa segalanya bisa dibeli dengan uang. Senggol sedikit bukan saling memaafkan, malah berujar "ke kantor polisi aja deh, mau sampe pengadilan juga hayoo.. "(emang bener dan gak salah sama sekali, tapi jelas sekali menunjukkan kesiapan waktu dan dana tak terbatas hanya untuk urusan sepele..). Mengenai fenomena bikers MKA ini, seorang kawan memberi masukan bahwa bikers yang seperti ini biasanya kaya-nya cuma nangung-nanggung aja, kalo memang sugih beneran pasti malu, pasti jaim - jaga image, apalagi kalo merasa dirinya terpelajar, pasti malu kalo ikutan berkelakuan kayak orang kurang pendidikan.. hehehehee... Yah... udah panjang-panjang begini... Sebenernya saya cuma ingin mengulas saja kenapa motor sekarang begitu membludak dijalan. Kedua, kenapa pengendara motor sekarang begitu semaunya dijalan. Inilah sisi pandang saya pribadi, yang suka silahkan baca, yang tidak suka silahkan hapus... (gitu aja kok repot). Dan sebagai member RSA - Road Safety Associatian, saya hanya berharap kita semua segera berbenah diri sebagai bikers. Masih ada banyak orang yang berfikiran bahwa bikers ngehe dijalan adalah orang kampungan. Kalo ngga mau dibilang kampungan ya perbaikilah sikap anda dijalan. jadikan jalan raya sebagai tempat untuk mempertebal kesabaran,menumbuhkan jiwa toleran dengan sesama, memupuk rasa ikhlas apabila ada yang ingin mendahului kita, jangan lantas diajak kebut-kebutan. Duh..pegel juga yah... Medio September 2008, Jumat 12-09-08 CakSontuL Van Der Gathelen note: Tulisan ini tidak ditujukan untuk mendeskreditkan seseorang atau golongan tertentu. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan. Bulan Ramadhan adalah bulan suci untuk saling menjaga hati dan bermaaf-maafan. Buat pemerintah, sudah saatnya angkutan massal MURAH bersubsidi direlease. demi Jakarta yang lebih baik dimasa datang salam.... Sumber: jalan raya dot net |
Terakhir diubah oleh 042 tanggal Mon Oct 06, 2008 1:22 pm, total 1 kali diubah



















gunakanlah alat keselamatan berkendara
tidak ngebut di jalan