Sekali lagi kita harus mempertanyakan dominasi Honda di pasar Indonesia terutama di semester pertama 2007. Terutama karena sekali lagi Yamaha berhasil mencuri tampuk pimpinan penjualan di bulan Juli 2007 setelah bulan Maret lalu sempat menginjak podium pertama tetapi kemudian terpeleset lagi.
Secara total Yamaha memimpin penjualan motor bulan Juli 2007 dengan mengantongi angka 161.016 unit, sedangkan Honda harus puas dengan angka 143.233 unit. Tampak bahwa strategi Honda selama ini yang hanya mengandalkan taktik ganti baju ternyata tidak mempan. Sebagus apa pun bajunya, tampaknya tidak membuat para pengguna terlena. Ya, Honda harus mengakui bahwa konsumen sekarang telah pintar dan tidak mudah terlena dengan iming-iming nama besar.
( ** Data diperoleh dari Tabloid Otomotif Edisi 16/XVII/2007, 20 Agustus 2007 **)
Tampaknya ini dampak dari strategi Yamaha yang mengedepankan teknologi dengan tidak lupa mengedukasi masyarakat akan teknologi itu sendiri. Dan langkah Yamaha tidak tanggung-tanggung, dengan strategi yang terintegrasi, sedikit demi sedikit Yamaha mampu menggerogoti Honda dan membuktikan bahwa Yamaha patut diacungi jempol.
Lihat saja gerak Yamaha, selain dengan edukasi teknologi kepada masyarakat, Yamaha juga membuktikan bahwa motornya baik untuk dijadikan tunggangan kompetisi. Sudah terbukti bahwa motor-motor Yamaha mendominasi balapan di Indonesia. Tidak hanya itu, Yamaha juga melakukan pembibitan pembalap Indonesia. Dan nampaknya tidak sia-sia, pembalap kebanggaan Indonesia, yaitu Doni Tata sudah mulai merambah kancah balap internasional. Ini salah satu bukti kesuksesan strategi Yamaha untuk jangka panjang. Dan kesuksesan ini meningkatkan simpati masyarakat Indonesia.
Suzuki sendiri tampak kurang menggigit dengan semakin turunnya penjualan mereka. Walau pun demikian Suzuki masih bisa berbangga dengan dominasinya di kelas motor sport dengan Suzuki Thunder 125 cc. Keberhasilan ini tentu karena gencarnya promosi Suzuki belakangan ini di samping harga Thunder 125 cc yang cukup kompetitif bahkan dibanding motor bebek.
Penjualan Bebek 100-110 cc
Kelas ini didominasi oleh 2 pabrikan saja, yaitu Yamaha dan Honda. Tidak tanggung-tanggung, posisi 1 sampai 5 disabet motor-motor dua pabrikan ini. Sementara pabrikan lain harus lengser dari posisi 5 besar ini. Bagaimana nih Suzuki dan Kawasaki?
Penjualan Motor 100-110 cc
Yang patut dicatat adalah melejitnya Honda Revo yang walau pun baru bulan kedua diluncurkan sudah menapaki posisi 4 menggilas Honda Supra Fit dan juga Suzuki Smash.
Penjualan Bebek 125 cc ke atas
Di kelas ini persaingan cukup ketat karena posisi 1 sampai 5 dibagi 4 pabrikan. Yang istimewa adalah Suzuki yang mampu menempatkan 2 produknya, yaitu Shogun 125 dan Satria F150 di posisi 3 dan 4. Walau pun demikian, gabungan penjualan kedua produk unggulan Suzuki ini cukup tertinggal dari posisi kedua.
Penjualan Motor 125 cc ke atas
Sayang Suzuki Arashi harus terdepak dari posisi 5 setelah digusur oleh Kawasaki ZX 130.
Penjualan Skutik
Motor Skutik semakin tidak melaju. Kontribusinya tidak bisa diremehkan lagi. Penjualannya pun hampir setara dengan penjualan kelas Bebek 125 ke atas yang merupakan produk andalan para pabrikan. Bukan tidak mungkin jika ke depannya motor skutik menggusur kelas 125 dan mengejar penjualan bebek murah.
Bukan omong kosong mengingat semakin seriusnya masing-masing pabrikan menggarap pasar skutik. Lihat saja produk baru Suzuki, yaitu Suzuki Wave125 yang meneruskan kepeloporan Suzuki Spin di kapasitas mesin yang lebih besar dari pada para rivalnya.
Penjualan Motor Matic
Prestasi yang baik diraih oleh Honda Vario yang mampu menyodok di posisi 2 padahal ini termasuk skutik yang baru datang belakangan. Tentu saja Yamaha tidak tinggal diam. Dan untuk menjaga keamanan posisi nomer satunya, Yamaha bulan Agustus ini merilis Yamaha Mio Soul yang tampangnya lebih macho. Rupanya Yamaha sadar bahwa walau pun Yamaha Mio dibuat untuk wanita, tetapi pemakai Mio justru lebih banyak pria.
Sedangkan Yamaha Nouvo cukup tertatih-tatih mendaki posisi 4 mengungguli Kymco si pelopor motor matik.
Motor Sport
Rupanya tampuk pimpinan kelas motor sport masih dipegang Suzuki Thunder 125 cc. Tapi Suzuki harus mewaspadai motor sport baru dari Yamaha, yaitu V-ixion. Konon daftar inden V-ixion lebih dari 8.000 unit per bulan. Padahal kapasitas produksi Yamaha tidak memungkinkan memproduksi V-ixion sebesar itu. Wah
bagaimana nih Yamaha?
Penjualan Motor Sport
Bajaj Pulsar juga calon penantang utama pasar motor sport. Maklum jenis motor ini yang walau pun volume penjualannya tidak besar tetapi memiliki margin yang cukup lumayan. Saya rasa Pulsar cukup memiliki potensi untuk masuk di 5 besar penjualan. Syaratnya adalah promosi terintegrasi yang terus menerus. Mungkin Bajaj harus belajar banyak dari Yamaha dan jangan meniru Honda. Hehehe
Kesimpulan
Tidak dapat dipungkiri bahwa konsumen motor sekarang sudah semakin pandai. Konsumen sudah tidak bisa ditipu mentah-mentah oleh pabrikan besar. Konsumen sekarang semakin sadar bahwa mereka membeli motor sesuai dengan kebutuhan dan tentu saja selera. Dan sekarang adalah eranya teknologi tinggi. Paling tidak selera konsumen sudah mulai bergeser.
Bukan jamannya lagi konsumen menerima mentah-mentah produk keluaran pabrikan. Kalau dulu mungkin masih bisa begitu mengingat persaingan masih tidak sekompetitif sekarang.
Peran pabrikan dalam mengedukasi masyarakat juga cukup mampu mendongkrak penjualan. Masih ingat DVD bonus penjualan MX dan V-ixion? Ini bukti bahwa Yamaha cukup aware dengan konsumen yang hi-tech. Juga cukup jelas bahwa Yamaha ingin merangkul para pecinta teknologi tinggi. Tentu saja ini cara yang jitu. Bukankah masyarakat pecinta hi-tech dapat menyebarkan informasi dengan lebih cepat? Lihat saja review tentang MX dan V-ixion yang banyak beredar di blog mau pun website.
Yamaha sendiri cukup jeli dengan menyediakan wadah maya di internet bagi para konsumennya. Bahkan forum V-ixion sudah ada sebelum V-ixion diluncurkan.
Bagaimana pun kita harus mengakui bahwa langkah Yamaha dalam meraih puncak patut diacungi jempol. Bukannya tidak mungkin jika kelak Yamaha tidak hanya mencuri gelar hanya di 2 bulan, tetapi bisa saja sepanjang tahun.
Rasanya Honda harus mulai merubah strateginya. Tetapi mengingat jawaban Johannes Loman saat diwawancarai Tabloid Otomotif, bisa jadi di semester kedua Honda masih akan diinjak Yamaha lagi. Berikut petikan 1 paragraf dari Tabloid Otomotif:
Nah, jika kini konsumen yang menjadi titik tolak bertindak, maka sudah waktunya bagi Honda menelurkan produk-produk yang tidak lagi konvensional. Kembali ke jalur awal sebagai produsen motor (bukan sekedar ganti casing atau model bodi) dan berani merilis model mutakhir seperti dilakukan kompetitor. Wah, yang itu tunggu dulu dong. Butuh waktu agak lama, ujar Loman.
Tinggal Suzuki, Kawasaki dan Bajaj yang harus mulai memikirkan strategi yang jitu untuk ikut dalam kancah persaingan puncak motor. Lalu bagaimana dengan Kanzen? Rupanya pelan tapi pasti Kanzen mulai menggeliat menunjukkan taringnya dengan mulai ikut berkompetisi di dunia balap. Semoga produk nasional ini semakin mampu menunjukkan jati dirinya.
________________________________________