First topic message reminder :TAPI JANGAN LIHAT ORANG SURABAYA DARI GRAMMAR-NYA Walaupun
dialek Surabayaatau bahasa yang dipakai orang Surabaya dalam bertutur kata itu kasar
dan nada bisaranya pun terkesan keras, akan tetapi sebenarnya tidak
semua orang Surabaya itu bisa dikonotasikan perilaku dan sifatnya kasar
juga. Tetapi banyak juga orang Surabaya itu yang juga baik budinya...
hehehehehe.. So,
don't judge the book by it's cover....!!!Coba dengarkan percakapan antara Si Suro dan Si Boyo dalam video berikut ini:
Download Link for this video is here (3GP 10.4MB)[...]Ada
juga film yang cerita soal Suro-Boyo. Itu lho, hiu dan buaya yang
cerita jadulnya, konon mereka berantem sampai tewas dan itu yang jadi
asal usul nama Kota Surabaya. Cuma, dalam film berjudul Grammar yang
dibikin sama Mohammad Sholikin
ini, Suro dan Boyo malah berteman dekat. Si Suro yang lagi sakit berat
telepon si Boyo dan minta pinjaman duit. Enggak tanggung-tanggung
saudara-saudara! Dia minta pinjaman duit Rp 500 juta buat operasi,
gara-gara pas dia berenang lalu sesak napas, kebanyakan lumpur.[...]
Bahasa
Surabaya atau yang lebih dikenal dengan bahasa Suroboyoan ini adalah
salah satu bahasa Jawa yang tergolong paling kasar diantara kerabatnya
yang lain. Dibandingkan dengan bahasa Jawa yang ada di Jawa Tengah atau
Jawa Timur bagian barat tentunya bahasa Suroboyoan ini sangat jauh
sekali. Semakin ke barat maka semakin halus pula penggunaan bahasa Jawa
dalam kehidupan sehari-hari bagi penuturnya..... Jadi jelas pula kalau
bahasa Jawa orang Solo begitu halus, sementara bahasa Jawa orang
Surabaya kasar dan cenderung apa adanya, ceplas-ceplos serta lebih
kasar. Misalnya, ada tiga kosakata untuk menunjukkan pengertian mati,
yaitu mati, matek, dan bongko. "He, wong tuwek iku matek njlungup nang
sumur ndase tugel!" (Orang tua itu mati masuk sumur, kepalanya patah).
Masak orang mati disamakan seperti binatang saja, Matek, Ndase......
Ya..
Bahasa Suroboyan ini memang cenderung apa adanya dan simple.... Dalam
mengucapkan kata-kata sehingga membentuk kalimat orang Surabaya
terkesan efisien.. Mereka tidak membutuhkan banyak kata untuk
mendeskripsikan sesuatu hal atau keinginan mereka, tak heran pula kalau
orang Surabaya sedikit gagap jika disuruh mendeskripsikan tentang suatu
hal apalagi menggunakan berbahasa Indonesia (kalau anda sering lihat
B-Cak Berita Kocak di JTV, red). Susunan katanya pun acak adut
kadang-kadang. Saya sendiri pun mengakuinya.... Bahasa Jawa pada
umumnya dan terlebih lagi yang ada di Surabaya ini jarang sekali
mengenal pedoman S-P-O-K seperti yang pernah kita dapatkan dalam
pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah....
Dalam bahasa Surabaya
sering didapati kata-kata kasar seperti ini dancuk, jancuk, jancok,
cuk, simboke ancok, taek, jangkrik, matamu, damput, asu, wuasyu, dan
lain-lain. Serangkaian kata-kata kotor itu pada penggunaan bahasa Jawa
secara umum dipandang orang sebagai kata-kata yang kasar, saru dan
kotor. Normalnya, kata-kata tersebut dipakai untuk memarahi dan
membenci seseorang. Akan tetapi untuk masyarakat Surabaya kata-kata ini
digunakan dalam situasi penuh keakraban, terutama kata dancuk, diamput,
dan jangkrik (sebagai pengganti kata panggil, misalnya mas atau mbak..
menjadi cuk atau jancuk). Misalnya, "Yoopo kabarmu, cuk" normalnya
adalah seperti ini "Bagaimana kabarmu, mas?". Serta orang yang diajak
bicara tersebut seharusnya tidak marah, karena percakapan tersebut
diselingi dengan canda tawa penuh keakraban dan berjabat tangan dong...
Hehehehe....
________________________________________